Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs <p><strong>Selamat Datang di Website Health Science UDINUS (HS-UDINUS)</strong></p> <p>HS-UDINUS hadir sebagai platform terpercaya untuk penerbitan buku-buku berkualitas di bidang kesehatan dan ilmu terkait. Dengan nomor ISBN (<em>International Standard Book Number</em>) dan DOI (<em>Digital Object Identifier</em>), setiap buku yang kami terbitkan memiliki identitas unik yang memudahkan proses penjualan, distribusi, dan pencarian di tingkat nasional maupun internasional.</p> <p>Kami berkomitmen untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai layanan unggulan:</p> <ul> <li> <p><strong>Layanan Book Publishing</strong><br />Penerbitan buku dengan standar tinggi yang didukung oleh tim editorial profesional.</p> </li> <li> <p><strong>Layanan Print on Demand</strong><br />Cetak buku sesuai kebutuhan Anda, tanpa harus memesan dalam jumlah besar.</p> </li> <li> <p><strong>Layanan General Offset Printing</strong><br />Produksi cetak berkualitas tinggi untuk kebutuhan dalam skala besar.</p> </li> <li> <p><strong>Daftar Buku Terlengkap</strong><br />Jelajahi koleksi buku kami yang mencakup berbagai topik kesehatan dan ilmu lainnya.</p> </li> </ul> <p>Dengan layanan ini, HS-UDINUS siap menjadi mitra Anda dalam berbagi ilmu pengetahuan, memperluas jangkauan karya ilmiah, dan mendukung pengembangan akademik maupun profesional.</p> <p>Temukan inspirasi dan inovasi di setiap buku yang kami terbitkan!</p> en-US fkesdinuspress@gmail.com (Admin Book Chapter HS Udinus) okisetiono@dsn.dinus.ac.id (Oki Setiono) Tue, 03 Feb 2026 01:45:23 +0000 OJS 3.2.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Pengendalian Vektor Kecoa: Terminologi, Teori, dan Aplikasinya https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15116 <p>Kecoa adalah vektor mekanik utama penyakit di lingkungan urban tropis, termasuk Indonesia. Mereka membawa patogen seperti Escherichia coli, Salmonella spp., dan Shigella spp. yang menyebar melalui kontaminasi fecal-oral, berkontribusi pada 20–30% kasus diare infeksius, asma, dan infeksi nosokomial. Klasifikasi taksonomi, morfologi, dan siklus hidup spesies utama seperti Periplaneta americana dan Blattella germanica menggambarkan kemampuan adaptasi tinggi kecoa di habitat urban. Gejala penyakit akibat kecoa meliputi gangguan pencernaan, gangguan pernapasan, dan infeksi nosokomial. Metode pengendalian meliputi fisik (sanitasi, perangkap), kimia (gel bait), biologis (jamur entomopatogen), dan teknologi inovatif seperti RNAi. IVM terbukti menurunkan infestasi hingga 80%, dengan jamur entomopatogen efektif membunuh hingga 95% kecoa di iklim tropis. Prevalensi kecoa urban Indonesia mencapai 70%. IVM menjadi strategi penting untuk mengatasi resistensi insektisida yang meningkat, dengan potensi pengurangan beban penyakit 30–50% hingga 2030, menjamin kesehatan masyarakat berkelanjutan.</p> Shelma Atira Dewi, Suharyo Suharyo Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15116 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Efektivitas Pengendalian Vektor Aedes Aegypti Secara Kimiawi di Indonesia https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15155 <p>Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk <em>Aedes aegypti</em> yang berperan sebagai vektor utama virus dengue. Salah satu metode pengendalian yang paling sering digunakan adalah pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pengendalian vektor <em>Aedes aegypti</em> secara kimiawi serta dampaknya terhadap resistensi nyamuk dan lingkungan. Berbagai golongan insektisida seperti organofosfat, karbamat, piretroid, dan pengatur pertumbuhan serangga (Insect Growth Regulator/IGR) telah digunakan dengan beragam tingkat keberhasilan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan bahan aktif seperti temephos, malathion, cypermethrin, dan deltamethrin efektif menurunkan populasi nyamuk, namun penggunaannya yang tidak terarah dapat menimbulkan resistensi dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, penerapan pengendalian kimiawi perlu disertai dengan strategi pengendalian vektor terpadu (Integrated Vector Management/IVM) agar efektivitas jangka panjang dapat terjaga tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem.</p> Awenda Nazwa Dwi Sepa Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15155 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pengendalian Vektor Secara Hayati; Terminologi, Teori, dan Aplikasinya https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15187 <p data-start="121" data-end="1036">Penyakit tular vektor seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan filariasis masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Upaya pengendalian vektor selama ini cenderung bergantung pada penggunaan insektisida kimia, yang dapat menimbulkan dampak negatif berupa resistensi vektor, pencemaran lingkungan, serta gangguan terhadap organisme non-target. Sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan, pengendalian vektor secara hayati dikembangkan dengan memanfaatkan musuh alami seperti predator, parasit, dan mikroorganisme yang mampu menekan populasi vektor secara alami. Agen hayati yang umum digunakan antara lain ikan pemakan jentik (Gambusia affinis, Poecilia reticulata), bakteri Bacillus thuringiensis israelensis (Bti), jamur entomopatogen (Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana), serta bakteri Wolbachia yang dapat menghambat transmisi virus dengue pada nyamuk Aedes aegypti.</p> <p data-start="1038" data-end="1790">Pendekatan pengendalian ini dilaksanakan melalui konsep Integrated Vector Management (IVM) yang menekankan keseimbangan antara efektivitas, keamanan lingkungan, dan partisipasi masyarakat. Pemerintah Indonesia mendukung penerapan metode hayati melalui Permenkes No. 374 Tahun 2010 tentang Pengendalian Vektor dan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Penyakit Tular Vektor 2020–2024. Penerapan pengendalian hayati terbukti mampu menurunkan populasi vektor secara bertahap, menjaga keseimbangan ekosistem, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis. Dengan demikian, pengendalian vektor secara hayati merupakan strategi efektif dan ramah lingkungan yang mendukung upaya pengendalian penyakit tular vektor secara berkelanjutan di Indonesia.</p> Hardina Cita Rani Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15187 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pengendalian Vektor Terpadu; Terminologi, Teori, Dan Aplikasinya https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15190 <p data-start="121" data-end="608">Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) merupakan pendekatan strategis dalam menurunkan kejadian penyakit tular vektor di Indonesia. Pendekatan ini mengintegrasikan metode fisik, kimia, biologi, serta pemberdayaan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor untuk menghasilkan intervensi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Artikel ini membahas konsep dasar PVT, karakteristik vektor utama, serta berbagai metode pengendalian yang umum digunakan, termasuk teknologi inovatif seperti Wolbachia.</p> <p data-start="610" data-end="1273">Analisis implementasi di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan program sangat dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat, dukungan kebijakan, dan pemanfaatan teknologi pendukung seperti aplikasi digital dan pemetaan berbasis drone. Studi kasus di Yogyakarta menunjukkan bahwa penerapan Wolbachia mampu menurunkan kasus demam berdarah lebih dari 70%. Selain itu, peran Puskesmas, Posyandu, serta sektor non-kesehatan terbukti penting dalam memperkuat strategi pengendalian di tingkat komunitas. Temuan ini menegaskan bahwa PVT merupakan pendekatan yang relevan dan efektif dalam menghadapi tantangan penyakit tular vektor di tengah perubahan iklim dan urbanisasi.</p> Rizka Muzakki Syah Syah Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15190 Sun, 02 Feb 2025 00:00:00 +0000 Konsep Dasar Vektor Pada Penularan Demam Berdarah Dengue : Terminologi, Teori, dan Strategi Pengendalian https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15199 <p>Demam Berdarah <em>Dengue </em>(DBD) merupakan salah satu penyakit yang terus menjadi ancaman kesehatan masyarakat di berbagai negara, terutama di wilayah beriklim hangat dan lembap. Penularan DBD sangat bergantung pada keberadaan vektor utama, yaitu <em>Aedes aegypti</em> dan <em>Aedes albopictus</em>, sehingga pemahaman mengenai konsep dasar vektor menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Essay ini menguraikan terminologi kunci dalam kajian vektor, termasuk definisi vektor, kompetensi vektor, siklus hidup, dan konsep kapasitas vektor. Selain itu, dijelaskan mengenai landasan teori yang meliputi dinamika vektor virus-host, faktor lingkungan yang mempengaruhi populasi vektor, serta parameter epidemiologi yang menentukan risiko penularan. Essay ini juga menyoroti strategi pengendalian vektor yang meliputi pendekatan kimia, biologis, lingkungan, serta penerapan manajemen terpadu berbasis masyarakat dan teknologi. Pemahaman komprehensif mengenai konsep dasar vektor diharapkan dapat memperkuat efektivitas program pengendalian DBD dan membantu menurunkan kejadian penyakit melalui intervensi yang lebih terarah dan berkelanjutan.</p> Okti Saritha Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15199 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Tinjauan Literatur Poliester Violet Sebagai Teknologi Perangkap Visual Multi Spesies Dan Potensinya Dalam Pengendalian Hama Lalat Terpadu https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15232 <p data-start="123" data-end="697">Lalat sinantropik, terutama lalat rumah (Musca domestica) dan lalat kandang (Stomoxys spp.), merupakan vektor penyakit mekanis dan hama ekonomi utama di sektor peternakan. Upaya pengendalian tradisional sangat bergantung pada insektisida kimia, yang kini menghadapi tantangan serius akibat meluasnya resistensi fisiologis, seperti knockdown resistance (kdr) yang dimediasi oleh mutasi pada gen saluran natrium. Sebagai respons, berbagai teknologi pengendalian non-kimia sedang dikembangkan, mulai dari larvasida biologis hingga sistem interdiksi laser berteknologi tinggi.</p> <p data-start="699" data-end="1358">Di antara solusi yang ada, perangkap visual berbasis warna menawarkan alternatif berbiaya rendah, namun seringkali memiliki efektivitas terbatas karena preferensi warna yang berbeda antar spesies. Tinjauan ini bertujuan untuk mensintesis temuan terbaru mengenai efektivitas material baru, poliester violet, sebagai alat kontrol multi-spesies. Literatur terbaru menunjukkan bahwa target poliester violet secara signifikan lebih efektif dalam menarik M. domestica dan Stomoxys spp. dibandingkan dengan target standar berwarna biru atau hitam. Ukuran target yang lebih besar (misalnya 1.0 x 0.5 m) juga terbukti meningkatkan jumlah tangkapan secara signifikan.</p> <p data-start="1360" data-end="1625">Tinjauan ini menyimpulkan bahwa poliester violet merupakan teknologi non-kimia pasif yang sangat menjanjikan untuk diintegrasikan ke dalam program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di lingkungan peternakan, melengkapi strategi pengendalian larva dan kimia yang ada.</p> Ari Saeful Bahri, Suharyo Suharyo Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15232 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pendekatan Ekologis dalam Pengendalian Vektor: Strategi Pengelolaan Lingkungan untuk Mencapai Kesehatan Berkelanjutan https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15140 <p>Penyakit tular vektor seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan leptospirosis masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia. Urbanisasi yang cepat, perubahan iklim, dan pengelolaan sampah rumah tangga yang buruk telah menciptakan kondisi lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan populasi vektor. Upaya pengendalian berbasis kimiawi, seperti fogging dan insektisida, hanya efektif sementara dan berisiko menimbulkan resistensi serta pencemaran lingkungan.</p> <p>Essay ini bertujuan meninjau efektivitas pendekatan ekologis dalam pengendalian vektor penyakit melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap laporan Kementerian Kesehatan, WHO, dan berbagai studi ilmiah terkait pengelolaan lingkungan dan vektor penyakit.</p> <p>Hasil kajian menunjukkan bahwa lebih dari 50% timbulan sampah nasional berasal dari rumah tangga dan menjadi tempat potensial bagi berkembang biaknya nyamuk, lalat, dan tikus. Pendekatan ekologis melalui manipulasi lingkungan (seperti pengurasan wadah air, pembersihan genangan, dan pemeliharaan ikan pemakan jentik) serta modifikasi lingkungan (melalui pembangunan drainase tertutup, pengelolaan sampah 3R, dan perbaikan tata ruang permukiman) terbukti menurunkan kepadatan jentik hingga 85% di beberapa wilayah endemis.</p> <p>Kesimpulannya, pengelolaan lingkungan berbasis manipulasi dan modifikasi ekosistem merupakan strategi pengendalian vektor yang efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, dukungan kebijakan, dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan serta keseimbangan ekosistem.</p> Anastacia Rheinata Wibowo Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15140 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pengendalian Vektor Aedes Aegypti Berbasis Lingkungan, Biologis, dan Teknologi Modern di Indonesia https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15157 <p>Aedes Aegypti merupakan vektor utama penular penyakit dengue, chikungunya, zika, dan demam kuning, dan keberadaannya menjadi tantangan kesehatan masyarakat terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk, resistensi terhadap insektisida, serta tingginya mobilitas penduduk berkontribusi pada meningkatnya risiko penularan penyakit. Jumlah kasus demam berdarah di beberapa daerah menunjukkan bahwa upaya pengendalian vektor masih perlu diperkuat. Pengendalian Aedes Aegypti dilakukan melalui berbagai metode, meliputi pendekatan fisik-mekanis, kimiawi, biologis, hingga manajemen lingkungan. Pemerintah Indonesia juga menerapkan sejumlah kebijakan seperti PSN 3M Plus, penggunaan teknologi Wolbachia, Lethal Ovitrap (LO), larvasida nabati, hingga teknik pejantan mandul (SIT). Selain itu, pengendalian terpadu berbasis masyarakat dan surveilans jentik merupakan kunci dalam menekan perkembangan vektor pada semua stadium hidupnya. Nyamuk Aedes Aegypti memiliki ciri biologis dan perilaku yang mendukung kapasitasnya sebagai vektor yang efisien, sehingga pemahaman mengenai siklus hidup, habitat, dan karakteristik biologinya sangat penting dalam menentukan strategi pengendalian yang efektif dan berkelanjutan. Upaya pengendalian yang terintegrasi diharapkan mampu menekan populasi vektor, memutus rantai penularan, serta mengurangi beban penyakit demam berdarah di Indonesia.</p> Hani Fadhila Raihan Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15157 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pengendalian Vektor Termit (Rayap) : Kajian Komprehensif Klasifikasi, Morfologi, dan Strategi Pengendalian Berkelanjutan https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15188 <p>Pengendalian vektor termit (rayap) merupakan aspek penting dalam menjaga integritas bangunan, produktivitas sektor kehutanan, serta keselamatan infrastruktur rumah tangga dan industri. Rayap termasuk organisme sosial yang memiliki kemampuan tinggi dalam merusak material berbahan selulosa melalui aktivitas makan dan pembentukan koloni bawah tanah maupun dalam kayu. Penelitian dan laporan lima tahun terakhir menunjukkan bahwa peningkatan kelembapan, perubahan iklim, serta perkembangan kawasan permukiman telah memperluas distribusi dan intensitas serangan rayap. Beragam metode pengendalian terus dikembangkan, mulai dari pendekatan fisik, kimia, hingga biologi, masing-masing dengan efektivitas dan dampak lingkungan yang berbeda. Metode kimia khususnya termitisida berbahan aktif fipronil, imidacloprid, dan bifenthrin masih menjadi pilihan dominan karena efektivitasnya tinggi, sementara pendekatan biologi seperti pemanfaatan jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae menjadi alternatif ramah lingkungan. Tugas ini menguraikan klasifikasi dan morfologi rayap, teknik pengendalian yang umum digunakan, kelebihan dan kekurangannya, serta aplikasinya di lapangan. Kajian ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai strategi pengendalian rayap berbasis data ilmiah terkini sehingga dapat digunakan sebagai referensi praktis dan akademik dalam upaya pengendalian hama yang berkelanjutan.</p> Annida Sholehatul Lutfiadharin Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15188 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pengendalian Vektor Nyamuk Anopheles Secara Hayati: Terminologi, Teori, dan Aplikasinya https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15197 <p>Nyamuk Anopheles merupakan vektor utama penyakit malaria yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengendalian vektor secara konvensional menggunakan insektisida kimia telah menimbulkan berbagai dampak negatif seperti resistensi nyamuk, pencemaran lingkungan dan gangguan ekosistem. Pengendalian vektor secara hayati menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Metode pengendalian hayati meliputi penggunaan agen biologi seperti bakteri <em>Bacillus thuringiensis var. israelensis</em> (Bti), predator alami seperti ikan pemakan jentik, parasitoid, fungi entomopatogen, serta tanaman penghasil insektisida botani. Artikel ini membahas terminologi, teori dasar, jenis dan klasifikasi agen pengendalian hayati, aplikasi di lapangan, kebijakan pemerintah, serta kelebihan dan kekurangan metode pengendalian hayati terhadap nyamuk Anopheles. Pengendalian hayati terbukti efektif, aman bagi lingkungan dan dapat diintegrasikan dengan metode pengendalian lainnya dalam program Pengendalian Vektor Terpadu (PVT).</p> Amiratul Faiqoh Tegar Setyani, Suharyo Suharyo Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15197 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pengendalian Vektor Pinjal dan Kutu Secara Hayati; Terminologi, Teori, dan Aplikasinya https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15201 <p data-start="121" data-end="707">Pinjal (flea) dan kutu (lice) merupakan ektoparasit yang berperan penting sebagai vektor berbagai penyakit pada manusia. Beberapa spesies, seperti Xenopsylla cheopis, Ctenocephalides felis, dan Pediculus humanus corporis, terbukti menularkan penyakit pes, tifus, dan rickettsiosis. Selain itu, infestasi langsung seperti skabies dan dermatitis akibat gigitan pinjal dan kutu juga menimbulkan masalah kesehatan lingkungan dan sosial. Penelitian ini bertujuan menjelaskan konsep, klasifikasi, dan penerapan pengendalian pinjal dan kutu yang efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.</p> <p data-start="709" data-end="1318">Metode pengendalian yang dibahas meliputi pendekatan fisik-mekanis (kebersihan lingkungan, pengelolaan hewan penular), kimiawi (insektisida dan larvasida), biologis (pemanfaatan musuh alami), serta pengendalian lingkungan berbasis masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan pengendalian terpadu atau Integrated Vector Management (IVM) lebih efektif dibandingkan metode tunggal karena mampu menekan populasi ektoparasit di berbagai sumber penularan. Kesimpulannya, pengendalian pinjal dan kutu memerlukan kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat agar hasilnya optimal dan berkelanjutan.</p> Tasya Aulia Trengga Dewi Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15201 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pengendalian Vektor Secara Genetik; Terminologi, Teori, Dan Aplikasinya https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15265 <p><em>Pengendalian vektor secara genetik merupakan inovasi penting dalam upaya menurunkan beban penyakit menular yang ditularkan oleh vektor seperti nyamuk Aedes dan Anopheles di Indonesia. Metode ini memanfaatkan kemajuan bioteknologi, seperti gene drive, CRISPR/Cas9, Sterile Insect Technique (SIT), dan aplikasi bakteri Wolbachia, untuk memodifikasi populasi vektor sehingga menekan transmisi patogen. Studi kasus di Yogyakarta menunjukkan bahwa pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia mampu menurunkan insiden demam berdarah hingga 77% dan rawat inap sebesar 86% dalam dua tahun, tanpa dampak ekologi yang signifikan. Sementara itu, gene drive menawarkan potensi supresi populasi vektor secara revolusioner, namun masih menghadapi tantangan etik, risiko ekologi, dan regulasi yang ketat. Analisis bioetika dan risiko ekologi menyoroti pentingnya monitoring jangka panjang, konsultasi publik, serta pengawasan regulasi nasional dan internasional. Integrasi pengendalian genetik dengan strategi pengelolaan vektor terpadu (IVM), seperti penggunaan insektisida dan edukasi masyarakat, menjadi kunci efektivitas dan keberlanjutan program. Tantangan utama meliputi hambatan teknis, literasi masyarakat, biaya riset, serta harmonisasi kebijakan. Dengan kolaborasi multidisiplin dan dukungan kebijakan yang kuat, pengendalian vektor secara genetik berpotensi menjadi solusi inovatif dan berkelanjutan untuk mengatasi penyakit menular di Indonesia dan dunia.</em></p> Almahi Tasha Ayyuba Copyright (c) 2026 Penerbit Health Science UDINUS https://publikasi.dinus.ac.id/bhs/article/view/15265 Mon, 02 Feb 2026 00:00:00 +0000