FOTO KRITIK SOSIAL DALAM PELESTARIAN BENTENG KEDUNGCOWEK DARI PERSPEKTIF DEKONSTRUKSI DERRIDA

Authors

Keywords:

Foto Seni, Kritik Sosial, Benteng Kedungcowek, Diskonstruksi Derrida

Abstract

Pelestarian bangunan bersejarah penting dilakukan karena warisan budaya menjadi refleksi dari sejarah, budaya, dan identitas daerah atau bangsa. Penciptaan karya dan analisis ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana karya foto seni dapat digunakan sebagai bentuk kritik sosial terhadap keberadaan bangunan bersejarah Benteng Kedungcowek. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi Derrida yang menyoroti peran bahasa dalam membangun makna dan menghilangkan hierarki dalam pemahaman tradisional. Metode yang digunakan adalah analisis seni foto dengan pendekatan dekonstruksi Derrida, yang memeriksa bagaimana seni foto dapat merepresentasikan realitas yang berbeda dan mengeksplorasi hubungan antara gambar dan teks dalam seni foto. Konsep Dekonstruksi yang digunakan untuk memecah suatu karya seni menjadi elemen yang lebih kecil dan kemudian mengambil makna baru dari setiap elemen tersebut. Puisi dalam fotografi adalah penggabungan dua media seni yang berbeda untuk menciptakan pengalaman estetika baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni foto dapat digunakan sebagai bentuk kritik sosial terhadap pemeliharaan Benteng Kedungcowek dengan merepresentasikan realitas yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa seni foto dapat menjadi alat kritik sosial yang efektif dalam mempertanyakan pemahaman tradisional tentang pemeliharaan Benteng Kedungcowek. Pendekatan dekonstruksi Derrida dapat membuka pemahaman yang lebih luas dan memperkaya diskusi tentang pemeliharaan warisan budaya.

Author Biographies

Yulius Widi Nugroho, Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya

- S1 DKV- UNS lulus tahun 2000- S2 Ilmu Komunikasi UNITOMO lulus tahun 2010- Dosen di S1 Desain Komunikasi Visual ISTTS Surabaya

Anak Agung Gde Bagus Udayana, Intitut Seni Indonesia - Denpasar

Dosen - Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Denpasar

References

Al-Fayyadl, M. (2005). Derrida (M. Mushthaha (ed.); 1st ed.). https://books.google.co.id/books?id=-dBqDwAAQBAJ&pg=PA14&hl=id&source=gbs_toc_r&cad=2#v=onepage&q&f=false

Aritonang, M. (2024). Memahami Postmodernisme Menurut Jean Francois Lyotard. Jurnal Seri Mitra (Refleksi Ilmiah Pastoral), 3(1), 151–172. https://www.journal.stfsp.ac.id/index.php/jb/article/view/284

Barker, C. (2004). Cultural Studies: Teori & Praktik (1st ed.). Kreasi Wacana.

Darus, Y., & Riyanto, F. E. A. (2025). Mempersoalkan Kebenaran Bahasa Iklan dalam Media Massa : Tinjauan Kebenaran-Kebenaran secara Epistemologi. Arastamar: Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan, 1(1), 1–16.

Feininger, A. (2003). The Creative Photographer. Prentice-Hall. https://books.google.co.id/books?id=EaUQAQAAMAAJ&dq=editions%3AISBN0131906119&hl=id&source=gbs_book_other_versions

Hardiman, F. B. (2025). Seni_memahami_hermeneutik_.pdf (Widiantoro (ed.); 1st ed.). PENERBIT PT KANISIUS.

Jalil, D. A. (1990). Teori dan Periodisasi Puisi Indonesia. Angkasa.

Kurniawan, D., & Melani, A. (2020). Benteng Kdungcowek Resmi Jadi Bangunan Cagar Budaya-di Surabaya. Liputan6.Com, https://www.liputan6.com/surabaya/read/4247345/ben. https://www.liputan6.com/surabaya/read/4247345/benteng-kedung-cowek-resmi-jadi-bangunan-cagar-budaya-di-surabaya

Leitch, V. B. (1983). Deconstructive Criticism: An Advanced Introduction (1st ed.). Hutchinson & Co.

Nugroho, Y. W. (2011). Jepret! : panduan fotografi dengan kamera digital dan DSLR (Qoni (ed.); 1st ed.). Familia.

Nugroho, Y. W. (2020). Buku Khazanah Fotografi & Desain Grafis (1st ed.). Deepublish Publisher.

Nugroho, Y. W. (2022). Still-life Photography as Visual Poetry Media for Social Criticism of Lumpur Lapindo. Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts, 5(2), 93–111. https://doi.org/10.31091/lekesan.v5i2.2083

Nursafika, Rapi, M., & Mahmudah. (2019). Penangguhan Kebenaran Absolut dalam Teks Novel Kerumunan Terakhir Karya Okky Madasari; Kajian dekonstruksi Jacques Derrida [Universitas Negeri Makassar]. https://eprints.unm.ac.id/13560/

Oksinata, H. (2010). Kritik sosial dalam kumpulan puisi aku ingin jadi peluru karya wiji thukul (kajian resepsi sastra) [Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta]. https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/13610/Kritik-sosial-dalam-kumpulan-puisi-aku-ingin-jadi-peluru-karya-wiji-thukul-kajian-resepsi-sastra

Sherman, C. (1985). Reviewed Work of Arthur Asa Berger: Signs in Contemporary Culture, an introduction to semiotics. South Atlantic Review, 50(1), 121–123. https://www.jstor.org/stable/3199547?origin=crossref

Soedarso, S. (2006). Trilogi seni: penciptaan, eksistensi, dan kegunaan seni. Badan Penerbit Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Udayana, A. A. G. B. (2017). Marginalisasi Ideologi Tri Hita Karana Pada Media Promosi Pariwisata Budaya Di Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 32(1), 110–122. https://doi.org/10.31091/mudra.v32i1.4

Wicaksono, H., Roekhan, & Hasanah, M. (2018). Pengembangan Media Permainan Imajinasi dalam Pembelajaran Menulis Puisi bagi Siswa Kelas X. Jurnal Pendidikan, 3(2), 223–228. http://riset.unisma.ac.id/index.php/NOSI/article/view/5823%0Ahttp://riset.unisma.ac.id/index.php/NOSI/article/download/5823/5417

Downloads

Published

2025-09-30