REPRESENTASI KOMUNIKASI NON-VERBAL KARAKTER TULI YUKI ITOSE DALAM ANIME YUBISAKI TO RENREN

Authors

Keywords:

anime Yubisaki to Renren, komunikasi non-verbal, representasi Tuli

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi keberdayaan komunikasi karakter Tuli bernama Yuki Itose dalam anime Yubisaki to Renren. Latar belakang penelitian ini adalah adanya laporan tentang representasi yang kurang tepat dan stereotipikal terhadap karakter Tuli di media, seperti digambarkan sebagai objek yang dikasihani dan tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana anime Yubisaki to Renren menggambarkan karakter Tuli yang berdaya, utuh, positif, dan menampilkan kesehariannya, serta bagaimana ia berkomunikasi dan menjalin relasi dengan teman-teman Dengarnya di kampus. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teori representasi Stuart Hall dan pendekatan konstruksionis. Data dianalisis melalui bahasa visual dengan konstruksi konvensi sosial dan kode-kode budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yuki menggunakan bahasa isyarat Nihon Taiou Shuwa (Signed Japanese) sebagai bahasa utama,  ekspresi wajah, dan gestur yang melengkapi dan mengubah makna. Selain itu, terdapat gestur dan ekspresi umum yang diperlihatkan Yuki. Kesimpulannya, komunikasi non-verbal dalam anime ini tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menggambarkan dinamika relasi, emosi, dan konteks budaya. Hal ini menampilkan karakter Yuki yang utuh dan mampu berkomunikasi dengan lancar dengan teman-teman yang tidak Tuli. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan sarana edukasi bagi penonton non-disabilitas, sehingga stigma negatif terhadap komunitas Tuli dapat dihilangkan.

References

Ardiati, R. L. (2023). Apology Speech Act in Indonesian and Japanese Language: A Comparative Method. Theory and Practice in Language Studies, 13(1), 192–201. https://doi.org/10.17507/tpls.1301.22

Esther Jessica. (2024). Representasi Tanda Dalam Karya Manga Yubisaki To Renren Volume 1-3 Menggunakan Bahasa Isyarat Jepang (日本手話) (Kajian Semiotika).

Filik, R., Țurcan, A., Thompson, D., Harvey, N., Davies, H., & Turner, A. (2016). Sarcasm and emoticons: Comprehension and emotional impact. Quarterly Journal of Experimental Psychology, 69(11), 2130–2146. https://doi.org/10.1080/17470218.2015.1106566

Hamsal, Hendriani, S., & Sukri, A. (2023). Communication Soft Skills In Empowering Human Resources Soft Skill Komunikasi Pada Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Management Studies and Entrepreneurship Journal, 4(3), 2281–2296. http://journal.yrpipku.com/index.php/msej

Kakuta, M. (2010). Sign Language Variation and Implications for Deaf Education in Japan. Educational Studies, 52, 191–198. https://doi.org/10.34577/00002371

Khairunnisa, N. A., Widianti, S., & Haristiani, N. (2021). Apologizing Gestures Between Japanese and Indonesian (Based on Japanese Films and Indonesian Films). Proceeding of International Conference on Japanese Studies, Language and Education, 75–85.

Li, P., Phung, S. L., Bouzerdom, A., & Tivive, F. H. C. (2010). Feature selection for facial expression recognition. 2010 2nd European Workshop on Visual Information Processing, EUVIP2010, 35–40. https://doi.org/10.1109/EUVIP.2010.5699141

Matsumoto, D., & Ekman, P. (2008). Facial expression analysis. Scholarpedia, 3(5), 4237. https://doi.org/10.4249/SCHOLARPEDIA.4237

Palfreyman, N. (2015). Budaya tuli Indonesia dan hak bahasa (“Indonesian deaf culture and language rights”) [language: Indonesian]. https://www.researchgate.net/publication/322818553

Prameswari, L. C., Poetri, R. D., Mutiara, A., & Salam Almuakhir, A. (2023). Komunikasi Nonverbal Disabilitas Dalam Meningkatkan Kepuasan Konsumen Di Dignityku Jakarta Selatan. 1(2), 16–27.

Purba, B., Gaspersz, S., Bisyri, M., Putriana, A., Hastuti, P., Sianturi, E., Yuliani, D. R., Widiastuti, A., Qayyim, I., Djalil, N. A., Purba, S., Yusmanizar, & Giswandhani, M. (2020). Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar. Yayasan Kita Menulis.

Sato, W., Hyniewska, S., Minemoto, K., & Yoshikawa, S. (2019). Facial expressions of basic emotions in Japanese laypeople. Frontiers in Psychology, 10(FEB). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.00259

Sharifuddin, S. binti T., Perumal, V. a/p, & Hamid, H. bin A. (2023). The Importance of Deaf Representation in Animated Media. Proceedings of the 3rd International Conference on Creative Multimedia 2023 (ICCM 2023), 365–377. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-138-8_34

Stokoe, W. C. (1980). Sign Language Structure. Dalam Source: Annual Review of Anthropology (Vol. 9). http://www.jstor.orgURL:http://www.jstor.org/stable/2155741

Stuart Hall. (1997). Representation : cultural representations and signifying practices. SAGE Publication.

Urakami, J. (2014). Cross-cultural comparison of hand gestures of Japanese and Germans for tabletop systems. Computers in Human Behavior, 40, 180–189. https://doi.org/10.1016/j.chb.2014.08.010

Widiyanarti, T., Apriana Fadianti, C., Yunandar, F., Septia Ningsih, F., Fadli Aji, J., & Muhammadiyah Tangerang, U. (2024). Analisis Perbedaan Pola Komunikasi Verbal dan Non-Verbal dalam Interaksi Antar Budaya. INTERACTION: Communication Studies Journal, 1(3). https://doi.org/10.47134/interaction.v1i3

Sumber lain

SATO Wataru Laboratory. (t.t.). Diambil 18 Januari 2025, dari https://watarusato.shin-gen.jp/StudySato2019FrontPsychol.html

Research Group, N., & West Theatre, D. (2022). Deaf Representation Representation of the Deaf community in media and entertainment-and why it matters for Deaf audiences.

Downloads

Published

2026-01-11