MODEL TRANFORMASI MAINAN WARAK NGENDOG SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BUDAYA MAINAN TRADISIONAL KOTA SEMARANG

Abi Senoprabowo, Khamadi Khamadi

Abstract


Abstrak

Mainan Warak Ngendog merupakan media pembelajaran orang tua kepada anak agar mereka menjaga mainan tersebut dengan cara menjalankan ibadah puasa dengan baik sehingga mendapat endog (telur). Namun, anak-anak sekarang lebih mengemari karakter-karakter seperti Doraemon dan Upin ipin yang tercermin pada jenis mainan yang dijual pada saat Dugderan. Hal ini membuat mainan Warak Ngendog semakin tergeser dan mulai dilupakan padahal di dalamnya terdapat nilai budaya, nilai moral, dan nilai keterampilan yang dapat membantu perkembangan sosial dan kecerdasan motorik, afektif serta kognitif anak. Mainan tradisional agar tetap lestari harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Sehingga dengan memanfaatkan perkembangan IPTEK saat ini, mainan Warak Ngendog dapat ditransformasikan ke dalam bentuk mainan yang modern dengan tetap mempertahankan nilai budaya tradisinya. Penelitian ini mengusulkan tranformasi mainan tradisional Warak Ngendog melalui metode ATUMICS. Metode ATUMICS menganalisis elemen budaya menurut teknik (technique), kegunaan (utility), materi (material), ikon (icon), konsep (concept), dan bentuknya (shape). Sesuai prinsip seleksi dalam proses transformasi, elemen budaya yang dapat dipertahankan akan dipadukan dengan unsur mainan saat ini yang lebih menarik bagi anak-anak. Sebagai hasil akhirnya didapatkan model mainan modern hasil transformasi mainan tradisional Warak Ngendog seperti mainan berbentuk action figure, model kit, hingga aplikasi game.

 

Kata kunci: budaya, mainan, transformasi, Warak Ngendog.

 

Abstract

Warak Ngendog toy is a learning media for children to carry out fast so they get endog (eggs). However, children are now more interested in characters like Doraemon and Upin Ipin which are seen in the kinds of toys sold at Dugderan. This makes Warak Ngendog toy increasingly shifted and forgotten. Whereas, there are cultural values, moral values, and skill values that can help social development and motoric, affective and cognitive intelligence of children. Traditional toys to stay sustainable must be able to keep up with the times. By utilizing the development of science and technology today, Warak Ngendog toy can be transformed into a modern toy form while maintaining its traditional cultural value. This research proposes the transformation of Warak Ngendog toy through the ATUMICS method. The ATUMICS method analyzes cultural elements according to technique, utility, material, icon, concept, and shape. In accordance with the principle of selection in the transformation process, cultural elements that can be maintained will be combined with elements of toys that are more attractive to children today. As a result, there are several modern toy models that have been transformed by the traditional Warak Ngendog toy like the action figure, model kit, and game application.

Keyword: culture, toys, transformation, Warak Ngendog.


Full Text:

PDF

References


Hakim, F. N. 2012. Karya Komunikasi Visual dalam Dialektika Budaya Masyarakat di Kota Semarang. Jurnal Teknologi Informasi Dan Komunikasi, 3(1).

Hardiman, F. B. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas : Diskursus Filosofis Tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Yogyakarta: Kanisius.

Muliawan, J. U. 2009. Tips Jitu Memilih Mainan Positif & Kreatif untuk Anak Anda. Yogjakarta: DIVA Press.

Nugraha, A. 2012. Transforming Tradition : a Method for Maintaining Tradition in a Craft and Design Context. Helsinki: Aalto University, School of Arts, Design and Architecture.

Nugrahastuti, E., Pupitaningtyas, E., Puspitasari, M., & Salimi, M. 2016. Nilai-nilai Karakter pada Permainan Tradisional. In Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan. Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret.

Nurjanah, S. U. 2012. Permainan Tradisinonal: Mampukah Bertahan Di tengah Modernisasi?

Santrock, J. W. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja (6th ed.). Jakarta: Erlangga.

Senoprabowo, A. 2013. Perancangan Game Warak Ngendog untuk Menanamkan Nilai-Nilai Spiritual kepada Anak Sekolah Dasar. Institut Teknologi Bandung.

Sugiyono, S. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfa Beta.

Sujarno, S. 2011. Permainan Tradisional sebagai Jembatan Pembentukan Karakter Bangsa. Jantra, 6(12).

Supramono. 2007. Makna Warak Ngendog Dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota Semarang. Universitas Negeri Semarang.

Susanto, B. 2017. Jelang Dugderan, Sampai Lemas Perajin Patung Warak Ngendok Kerjakan Pesanan - Tribun Jateng. Retrieved August 21, 2018, from http://jateng.tribunnews.com/2017/05/11/jelang-dugderan-sampai-lemas-perajin-patung-warak-ngendok-kerjakan-pesanan

Suyanto, B., & Sutinah. 2013. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan (3rd ed.). Jakarta: Prenada Media Group.

Triyanto, T., Rokhmat, N., & Triyanto, M. 2013. Warak Ngendog : Simbol Akulturasi Budaya pada Karya Seni Rupa. Komunitas : International Journal of Indonesian Society Culture, 5(2).

Wicaksono, B. A., & Royanto, D. 2017. Makhluk Berkaki Empat Nyaris Punah di Tradisi Dugderan. VIVA.Co.Id.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

 

indexed by:

 

 

Andharupa Journal (p-ISSN : 2477 - 2852 | e-ISSN : 2477 - 3913) is published by Dian Nuswantoro University, Semarang. This Journal is licensed under Creative Commons Attribution 4.0 International License.